Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2019

8 macam topeng beserta maknanya

                                             8 macam topeng beserta maknanya



Mungkin kalian sudah tahu sedikit tentang tari topeng bukan? Atau bahkan menonton pertunjukannya serta ikut mempelajari, tapi apakah kalian tau macam-macam topeng serta apa saja makna yang terkandung didalamnya. Yuk kita cari tahu...
Macam-macam topeng ada delapan berdasarkan kebudayaan tari topeng dari Indramayu yang dipopulerkan oleh Mimi Rasinah, pada masa orde lama hingga puncaknya pada masa orde baru. Tari topeng Indramayu ini merupakan perkembangan dari kebudayaan tari topeng Cirebon yang memiliki lima macam topeng.
Secara semiotika kita bisa mengkaji macam-macam topeng dari beberapa sudut pandang yang bisa diakses oleh indra kita sebagai manusia. Adakah tanda dan lambang kehidupan manusia pada kebudayaan tari topeng ini?
Di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnyamengatakan bahwa denotasi adalah makna sebenarnya sesuai kamus. Konotasi adalah makna ganda yang lahir dari pengalaman cultural dan personal.
Konotasi yang menetap pada suatu komunitas bisa berakhir menjadi mitos. Ketika kekuatan mayoritas memberi konotasi tertentu kepada suatu hal secara tetap sehingga lama kelamaan menjadi mitos (makna yang membudaya).
Berikut beberapa macam topeng yang akan kita bahas ya teman-teman...
1. Topeng Panji
Topeng panji adalah topeng pertama yang keluar disaat pertunjukan tari topeng. Topeng panji berwarna putih keluar bersamaan gemericik ramainya suara gamelan-gamelan yang ditabuh para catrik (penabuh gamelan). Gerakan si penari dengan topeng panji perlahan, polos dan lembut serta tak banyak olah gerak. Secara konotasi bisa dimaksudkan bahwa topeng panji itu perumpamaan kelahiran seorang manusia. Manusia yang baru lahir sebagai anak-anak yang tidak banyak gaya atau tingkah, ia juga tidak dipenuhi hasrat dan nafsu seperti orang dewasa.Kelahirannya ditandai dengan gemericik ramai suara gamelan yang artinya lahir ditengah dunia yang telah ramai dengan berbagai hal. Warnanya putih karena jiwa anak-anak pada awalnya bersih, seperti yang kita ketahui bahwa anak yang baru lahir itu bagai sehelai kertas putih kosong.
2. Topeng Samba putih
Topeng samba putih, merupakan topeng kedua yang keluar dalam pertunjukan tari topeng Indramayu. Ini perumpamaan masa remaja seorang manusia. Topeng ini digambarkandengan mata yang mulai terbuka dan gigi yang terlihat, itu merupakan gambaran bahwa dia telah melihat dunia dan telah terpengaruh oleh lingkungan. Gigi serta mulutnya yang mulai terbuka kecil menunjukan hasrat dan nafsunya mulai keluar. Setiap perkataannya bisa mengandung hasrat dan nafsu yang segera akan berubah menjadi tindakan, kemudian menjadi karakter setelah biasa dilakukan.
3. Topeng samba abang
Topeng samba abang, berwarna merah muda. Gambaran topeng ini matanya cukup terbuka dan mulutnya cukup terbuka juga. Topeng ketiga yang keluar ini menggambarkan sosok manusia yang sudah dewasa(balig). Warna topengnya merah muda menggambarkan nafsu dan hasratnya telah matang. Pada masa ini hasrat dan nafsu tidak bisa ditahan, tetapi bisa dialihkan. Mengapa hasrat dan nafsunya tidak bisa ditahan? Karena hasrat dan nafsu adalah fitrah manusia (sifat manusia). Warna merah muda artinya tidak sepenuhnya merah. Menggambarkan bahwa hati manusia tidak pernah benar-benar sepenuhnya dikuasai oleh nafsu, selalu ada rasa kemanusiaan yang masih tersimpan di hati manusia. Sejatinya jiwa dan ruh manusia itu bersifat baik, hanya saja raga manusia mempunyai sifat keduniawian.
4. Topeng tumenggung
Topeng tumenggung, Topeng ini digambarkan dengan mata yang terbuka lebar, berwarna coklat dan berkumis.Dari namanya tumenggung menandakan bahwa manusia pada fase ini sedang pada masa kejayaannya. Artinya berkuasa atas dirinya sendiri, tidak ada larangan dari siapapun kecuali dari dalam dirinya yang berasal dari kesadara sepritual berupa etika dan agama. Pada fase ini manusia seringkali mengalami puber kedua. Mengapa bisa terjadi puber kedua? Karena pada fase ini manusia benar-benar ada dalam kondisi prima (masa produktif).Kondisi prima sangat mendukung godaan-godaan duniawi yang datang silih berganti. Tentu saja rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba tidak bisa ditahan saat situasi dan kondisi mendukung.
Topeng tumenggung berwarna coklat merupakan kombinasi dari warna merah dan hijau.Hijau menggambarkan kesuburan (kekayaan) dan merah menggambarkan hasrat dan nafsu. Saat manusia memiliki kekuasaan dan kekayaan (tahta dan harta), godaan duniawi semakin berat. Banyak orang tidak mampu mengontrol godaan duniawi pada fase ini.
5. Topeng kelana gendrung
Topeng kelana gendrung berwarna merah dengan matanya yang melotot, mulutnyamenganga dan giginya besar,berkumis dan rambutnya terlihat tebal. Topeng kelana gendrungadalah gambaran manusia yang sedang kebingungan mencari kebenaran. Terkadang ia mengejar-ngejar hasrat dan nafsunya, kemudian menyesalinya. Ia mengulangi kesalahannya dan menyesalinya lagi dan lagi. Gerakan tarian topeng kelana gendrung sangat lincah dan berenergi. Gerakannya maju, mundur dan berputar, menggambarkan kebingungan seorang manusia karena tidak mampu mengenali jati dirinya. Saat manusia tidak mengenal jati dirinya dapat dipastikan ia tidak mampu mengendalikan macam-macam hasrat dan nafsu yang ada pada dirinya. Fase ini biasanya terbatas dan tidak berlangsung lama, karena manusia dibatasi oleh umur. Saat umur bertambah dan tubuh sudah tidak dalam keadaan prima lagi, hasrat dan nafsu pun tidak mendapat kendaraan (tubuh) yang mendukung. Terkadang fase ini juga dihentikan oleh tubuh yang mendadak sakit. Tidak sedikit manusia yang meninggal pada fase ini karena telah menempuh jalan salah. Walau mata topeng kelana genderung melotot, tetapi tidak diartikan bahwa ia bisa melihat dunia ini dengan jelas. Matanya melotot karena ia ingin benar-benar melihat dunia ini, tetapi dunia ini penuh tipu daya. Artinya ia tertipu dengan apa yang dia lihat. Dia melupakan akhirat yang seharusnya ia lihat.
6. Topeng kelana udeng
Topeng kelana udeng berwarna merah tua, bentuknya wajah topengnya hampir sama dengan topeng kelana genderung, hanya warnanya yang berbeda. Warna topeng ini menggambarkan manusia yang sudah mulai beranjak tua. Gerak tarian topeng ini mulai mengurangi kelincahan tetapi masih berenergi, menggambarkan manusia yang hampir habis masa produktifnya. Energinya masih terlihat karena pada masa ini biasanya manusia menaruh harapan yang besar pada anaknya yang sudah beranjak dewasa (baligh).
7. Topeng rumyang
Topeng rumyang berwarna putih kemerah merahan, matanya menjadi sayu (sipit).  Topeng ini menggambarkan manusia yang sudah cukup tua, dan masa produktifnya benar-benar habis. Warnanya kembali putih karena ia mulai sadar bahwa ia menjadi tua dan segera habis waktunya di dunia. Tetapi warnannya agak kemerah-merahan, menunjukan sisa-sisa perbuatannya semasa muda yang penuh hasrat, nafsu dan angkara.
8. Topeng kiprah
Topeng kiprah berwarna putih, matanya kembali terbuka lebar. Topeng ini menggambarkan keadaan manusia yang sudah bertobat, dilambangkan dengan warnanya yang kembali ke warna putih seperti topeng panji yang pertama. Namun topeng kiprah ini matanya terbuka cukup lebar, matanya menggambarkan ia melihat dunia dan akhirat secara seimbang. Ketika seorang manusia telah bertobat, ia akan sering mengingat kematian. Karena sering mengingat kematian ia akan mencari tahu kehidupan setelah kematian (akhirat). Jadi pada fase ini, biasanya manusia merasa dekat dengan kematian, karena fase ini biasanya dialami orang yang benar-benar tua umurnya. Tentu saja semakin tua umur manusia, ia akan semakin sadar bahwa ia semakin mendekati kematian. Ketika ia sadar akan dekatnya kematian, ia akan mengatasi rasa takutnya menghadapi kematian dengan berbuat baik dan bertobat.
Topeng panji sampai topeng kiprah menggambarkan perjalanan hidup manusia dan perjalanan spiritual manusia. Semua manusia akan mengalami proses perjalanan yang sama, hanya saja waktu dan jalannya bervariasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan tari topeng ini mengandung makna yang begitu luhur. Membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia sangat luhur dan mengandung nilai falsafah yang teramat dalam. Dikatakan juga, untuk mengukur peradaban suatu bangsa, kita bisa melihat dari kebudayaan bangsa tersebut. Tari topeng ini adalah salah satu bukti luhurnya peradaban nenek moyang bangsa Indonesia.
Nah, sampai sini kita jadi lebih mengetahui bukan apa saja sih macam-macam topeng yang biasa digunakan saat pertunjukan tari topeng. Semoga kita selalu mau untuk mempelajari serta ikut serta dalam menjaga budaya kita sendiri. Terimakasih sudah membaca ya teman-teman...

Rabu, 25 Desember 2019

GAYA TARI TOPENG (5)



Tari Topeng Cirebon gaya Slangit




Ki Waryo dan Ki Wiyono saat membawakan drama satu babak dalam pertunjukan topeng Cirebon pada saat acara kaulan dirumah keluarga mimi Keni Arja (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Menurut keterangan dari Ki Erik North (budayawan Cirebon asal Santa Barbara – California) instrumen kendang yang ada pada foto merupakan instrumen kendang yang asli dari kebudayaan Cirebon jika dilihat dari bentuknya, bentuk ini berbeda dari kendang Sunda yang sekarang ramai dipergunakan.
Tari Topeng Cirebon gaya Slangit utamanya terpusat disekitar desa Slangit, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon, gaya inilah yang kemudian digunakan dan dikembangkan menjadi gaya tari Topeng Cirebon pada sanggar kesenian Sekar Pandan milik kesultanan Kacirebonan. Pada era tahun 80-an, sekitar tahun 1986 seorang peneliti asing bernama Pamela Rogers-Aguiniga telah mendokumentasikan secara mendetail berbagai dinamika dari tari Topeng Cirebon gaya Slangit melalui bimbingan Ki Sujana Arja (maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Musik pengiring

Musik pengiring yang digunakan dalam tari Topeng Cirebon gaya Slangit merupakan musik-musik khas gamelan Cirebon, berikut urutannya
·         Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
·         Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
·         Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
·         Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
·         Tumenggungan, atau dikenal dengan nama bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
·         Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.

Babak tarian

Pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Slangit terdiri dari lima babak yaitu ;
·         Panji,
·         Samba (Pamindo),
·         Rumyang,
·         Tumenggung
·         Klana.
Ki dalang Sudjana Arja menafsirkan pagelaran topeng Cirebon gaya Slangit kedalam tiga fase yaitu pertumbuhan jasmani manusia (dari mulai bayi hingga dewasa, suasana kebatinan manusia di mana manusia mempergunakan fungsi indranya dalam komunitas sosialnya dan makna keagamaan yang ditunjukan secara simbolis mengenai sifat dan perilaku manusia.

Gerakan tari

Gerakan tari yang menjadi ciri khas dari gaya Slangit adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat serta gesit dan mendetail dalam setiap perpindahan geraknya, dikarenakan urutan gerakannyayang sangat mendetail maka gaya Slangit dijadikan sebuah acuan dalam pengajaran tari Topeng Cirebon dalam lingkup akademis.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Slangit

Dalang tari pada gaya Slangit yang terkenal di masyarakat hampir seluruhnya merupakan keturunan dari keluarga Arja, salah satu yang masih aktif melestarikan dan juga sebagai pengajar formal adalah Keni Arja (saudara almarhum Ki Sujana Arja), perjuangan keluarga Arja pada masa lalu dalam mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari bukanlah sebuah hal yang mudah, setelah kematian enam saudaranya hanya tinggal Ki Sujana Arja dan Keni Arja yang berjuang mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari, karena dari sembilan orang anak keturunan Ki Dalang Arja hanya delapan orang yang kemudian menjadi seniman tari Topeng Cirebon, baik sebagai nayaga (penabuh gamelan) atau sebagai dalang topeng, di antara sembilan orang anak Ki Dalang Arja hanya Durman yang tidak menjadi seorang seniman Topeng Cirebonan.
Perjuangan almarhum Ki Sujana Arja dan adiknya Keni dalam upaya melestarikan gaya Slangit dimulai dari Bebarangan yakni mengamen topeng dari kampung ke kampung dan memenuhi panggilan pentas, ditengah terjepit dalam sulitnya mempertahankan tari Topeng Cirebon gaya Slangit yang sepi dari panggilan pentas, kelompok tari Topeng Cirebon juga pada masa itu (sekitar tahun 1960-an) dihadapkan dengan tuduhan bahwa mereka terkait dengan Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S) sehingga menyebabkan ada beberapa kelompok tari Topeng Cirebon yang memilih untuk membubarkan diri karena takut dikait-kaitkan dengan gerakan tersebut, tetapi karena berniat untuk melestarikan gaya Slangit maka Ki Sujana Arja beserta saudaranya Keni Arja tetap melakukan pagelaran untuk membuktikan bahwa tari Topeng Cirebon gaya Slangit mampu bertahan dalam segala perubahan.[20]
Setelah meninggalnya Ki Dalang Sujana Arja, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Slangit diteruskan oleh kedua puteranya, yaitu Inu Kertapati dan Astori, serta dalang-dalang topeng Cirebon gaya Slangit lainnya seperti Miah, Maskeni, Karmina, Wiyono (putera dari Keni Arja), Nunung Nurasih, Oliah, Iin, dan Turini.

Sanggar tari

·         Sanggar Sekar Pandan – Kompleks keraton Kacirebonan, Jl. Pulasaren No. 74, kota Cirebon.
·         Sanggar Panji Asmara (pimpinan Inu Kertapati) – desa Slangit sebelah utara, Klangenan, kabupaten Cirebon. Telp: +6281320004611
·         Sanggar Adiningrum (pimpinan Keni Arja) – desa Slangit, Klangenan, kabupaten Cirebon.
·         Sanggar Langgeng Saputra (pimpinan Sanija) – desa Slangit,Klangenan, kabupaten Cirebon. Telp +6285224774338


Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang

Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang masih dipentaskan di wilayah timur kabupaten Cirebon, penyebaran gaya Sinar Rancang terbatas disekitar desa Sinar Rancang, kecamatan Mundu, kabupaten Cirebon


Tari Topeng Cirebon gaya Tambi

'Tari Topeng Cirebon gaya Tambi merupakan tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di desa Tambi,kecamatan Sliyeg, kabupaten Indramayu, tari Topeng Cirebon gaya Tambi dan lainnya yang berada di wilayah kabupaten Indramayu secara umum memiliki kesamaan dengan tari Topeng Cirebon yang ada di wilayah kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka serta kabupaten Subang yakni dengan adanya lima babak tarian, perbedaannya hanyalah terdapatnya sub-babak Klana Udeng yang merupakan kepanjangan dari babak Klana.

Pakaian Penari

Pakaian penari (bahasa Cirebon: dalang topeng) pada gaya Tambi hampir mirip dengan gaya-gaya tari Topeng Cirebon lainnya, perbedaannya adalah pada pakaian ketika mementaskan sub-babak Klana Udeng, pada saat mementaskan Klana Udeng, dalang topeng tidak mengenakan penutup kepala (bahasa Cirebon: sobra) melainkan hanya mengenakan ikat kepala dari kain (bahasa Cirebon: udeng)


Musik pengiring

Musik pengiring pada gaya Tambi hampir serupa dengan gaya Slangit, perbedaannya adalah pada babak Klana selain diiringi oleh lagu Gonjring juga diiringi oleh lagu Sarung Ilang kemudian pada sub-babak Klana Udeng lagu pengiringnya adalah lag-lagu khas dari Indramayu atau dikenal dengan lagu dermayonan

Gerakan tari

Gerakan tari yang khas pada gaya Tambi adalah ketika mementaskan sub-babak Klana Udeng, pada saat itu tarian dipentaskan dengan mempertunjukan keahlian atraksi Dalang Topengnya, seperti atraksi menari di atas tambang sambil mengambil koin.

Babak tarian

Babak tarian yang ada pada gaya Tambi sama dengan gaya-gaya yang ada di wilayah kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka dan kabupaten Subang, yakni Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Klana. Perbedaannya adalah dengan adanya sub-babak Klana Udeng yakni kepanjangan dari babak Klana.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Tambi

Dalang Topeng yang terkenal dari gaya Tambi salah satunya adalah Nyai Wangi Indria, anak dari Ki Dalang Taham (dalang wayang Kulit Cirebon dan cucu dari Ki Wisad (seniman tradisional).

Sanggar tari

·         Sanggar Mulya Bhakti, pimpinan "Nyai" Wangi Indriya, Jl. Raya Jati Barang – Karang Ampel Km. 3, desa Tambi,kecamatan Sliyeg, kabupaten Indramayu. Telp. (+62-234) 352031




GAYA TARI TOPENG (4)


Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan



     Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan tersebar disekitar kecamatan Palimanan dan sekitarnya.

Musik pengiring
Musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan diantaranya adalah ;
·        Kembang sungsang, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Panji
·        Gaya-gaya, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Samba, kata Gaya-gaya diambil dari gerakan watak Samba yang lincah dan banyak tingkah.
·        Malang totog, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Tumenggung. kata Malang totog berarti Belalang yang sedang menotog yang diambil dari ekspresi dalam gerakan dalang Topeng yang sedang meniru gerakan Malang (bahasa Indonesia: Belalang) tersebut, Malang totog sebenarnya adalah nama asli dari tetaluan (tabuhan gamelan) yang mengiringi babak Topeng Tumenggung namun sekarang banyak yang mengenalnya denga nama tetaluan Tumenggung mengikuti nama babak Tumenggung yang sedang dipentaskan.
·        Bendrong, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Jingga Anom dan babak akhir yaitu Klana Udeng
·        Gonjing, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Klana
·        Kembang kapas, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Rumyang





Tetaluan yang dibawakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan kurang lebih memiliki kesamaan dengan yang ada pada gaya Gegesik yaitu dengan dimainkannya tetaluan Kembang Sungsang, Kembang Kapas dan Gonjing, kesamaan pada gaya Losari bisa dilihat dari dimainkannya tetaluan Bendrong pada babak Jingga Anom, kedekatan ini kemungkinan terjadi karena menurut penuturan para budayawan dahulu, sesepuh tari Topeng Cirebon gaya Palimanan berasal dari wilayah timur kabupaten Cirebon tepatnya di wilayah kecamatan Astana Japura, kabupaten Cirebon


Babak tarian
Babak tarian yang dibawakan pada gaya Palimanan hampir serupa dengan yang ada pada gaya Beber dan Randegan namun dengan penambahan babak Klana Udeng sebagai akhir dari pagelarannya.
·        Panji, gerakannya sangat menghayati diam namun penuh arti, sunyi ing raga, ngaji diri (bahasa Indonesia: menyepi diam dan mendekatkan diri) terhadap allah swt, babak ini dalam gaya Palimanan melambangkan jiwa yangg bersih suci tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir.
·        Samba, gerakannya sangat lincah merefleksikan anak balita yang sangat lincah dan senang bermain.
·        Tumenggung, menggambarkan jiwa yang mulai dewasa dengan ditandai tumbuh kumis tipis pada topeng tumenggung yang merefleksikan sudah dimilikinya tanggung jawab dalam kehidupan.
·        Jingga anom, babak pementasan seperti teater yang menceritakan tokoh Jingga Anom.
·        Klana, merefleksikan sekumpulan puncak jiwa amarah murka dari topeng Panji, Samba, Tumenggung, Jingga Anom yang menjelma jadi satu menjadi angkra murka
·        Rumyang, babak Rumyang ini menandai sudah terlepasnya hawa nafsu duniawi, dipentaskan saat terbitnya matahari, saat sinar sudah terlihat samar-samar (bahasa Cirebon: ramyang-ramyang), babak ini dalam gaya Palimanan diterjemahkan sebagai penemuan jati diri yang sesungguhnya jatiningsun ing gusti (bahasa Indonesia: diri ini berserah kepada Allah swt), memproyeksikan jiwa yang centil dan ganjen (bahasa Indonesia: mencari perhatian) (dalam arti ganjen terhadap Allah swt) ganjen berlomba-lomba menuntut dan mentaati peraturan Allah swt serta mulai memandang dunia yang arum (bahasa Indonesia: harum) yaitu alam akhirat
·        Klana udeng, gerak tarinya perpaduan semua gerak tari lima wanda (babak Topeng) namun dengan menambahkan gerakan yang belum sempat ditarikan di topeng lima wanda tersebut, babak Klana Udeng dipentaskan dengan tidak menggunakan sobra namun dengan menggunakan Udeng (bahasa Indonesia: iket kepala)

Selain lima babak yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) pada masa lalu di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

Gerakan tari
Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan memiliki ciri khas pada berbagai macam posisi berdiri yang diciptakan oleh dalang Wentar, posisi-posisi tersebut disesuaikan dengan postur tubuh dan kepantasan penarinya, ditambah dengan penafsiran yang berbeda dalam meresapi watak dalam cerita topeng, membuat gerakan tarian Topeng gaya Palimanan ini berbeda.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
Para dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang Wentar, Ki Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. namun menyebar ke wilayah lainnya terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber Jaya, kabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan Ki Wentar dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang kemudian menikah dengan Ki dalang Entang dari desa Balad, kecamatan Dukupuntang, kabupaten Cirebon merupakan ibu dan ayahnya, sehingga Ki Dalang Sukarta sekaligus menjadi cucu bagi Ki dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang terkenal dari gaya Palimanan adalah Ki dalang Ade Irfan.
Sanggar seni
o   Sanggar Seni Panggelar Budi, pimpinan Ki dalang Sukarta, Gedung Rumah Budaya jalan raya Cirebon – Bandung kawasan PT Indocement, desa Palimanan barat, kecamatan Gempol, kabupaten Cirebon. telp. +62-813-8095-8012 (Ki dalang Sukarta)
  • Sanggar Cipta Bagus Winangun, dibina oleh Ki Dalang Ade Irfan dan Tessar Ibrahim, bertempat di blok Kebagusan, desa Siti Winangun, kecamatan Jamblang, kabupaten Cirebon. Telp. +62 813-1132-6106 (Ki Dalang Ade Irfan) +62 878-2697-5428 (Dalang Tessar Ibrahim)







Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan

Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu, gaya Pekandangan merupakan salah satu dari sedikit gaya tari Topeng Cirebon yang ada di Indramayu selain gaya Tambi yang lestarikan oleh mimi Wangi Indriya.
Babak tarian
Pembagian babak pada tari topeng Cirebon gaya Pekandangan menurut Riyani didasarkan pada interpretasi dari gambaran nafsu manusia.
·        Panji
·        Samba (bertopeng putih)
·        Samba (bertopeng merah)
·        Patih
·        Klana

Riyani menjelaskan bahwa babak topeng Panji, Samba dan Patih merupakan sebuah interpretasi dari kesempurnaan manusia jika ditelaah dalam sudut pandang jiwa manusia sedangkan babak topeng Klana merupakan sebuah proyeksi dari gambaran jasmani seorang manusia yang masih mempunyai berbagai nafsu duniawi.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
Dalang topeng gaya Pekandangan yang terkenal adalah mimi (bahasa Indonesia: ibu) Rasinah anak dari Ki Dalang Lastra dan ibunya seorang dalang ronggeng, menurut Ki Waryo budayawan Cirebon, mimi Rasinah merupakan salah satu maestro tari Topeng Cirebon yang banyak menimba ilmu dari para seniornya terdahulu seperti dari mimi' Soedji (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan), kini setelah meninggalnya mimi Rasinah, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan dilanjutkan oleh para muridnya, salah satunya adalah Aerli yang juga keturunannya.
Pada awalnya keluarga besar Ki dalang Lastra mengalami kesulitan besar ketika hendak mengembangkan tari topeng Cirebon gaya Pekandangan, kesulitan itu muncul dari penjajah yang berfikir bahwa aktivitas pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan yang dilakukan oleh Ki Lastra merupakan sebuah aktivitas mata-mata oleh pejuang Republik Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang, kelompok tari yang dipimpin oleh Ki Lastra dibekukan hingga selanjutnya pada masa agresi militer Belanda, Ki Lastra tewas ditembak tentara Belanda dengan tuduhan yang sama dengan sebelumnya yaitu melakukan aktivitas mata-mata untuk Republik Indonesia.
Usaha melestarikan gaya Pekandangan oleh keluarga besar Mimi Rasinah membuahkan hasil dengan dipentaskannya pagelaran tari Topeng yang berjudul Napak Tilas Sang Maestro Tari Topeng Pekandangan: Mimi Rasinah di teater terbuka balai pengelolaan taman budaya Jawa Barat pada maret 2014 yang diperagakan oleh ratusan dalang topeng gaya Pekandangan dari berbagai usia dan dihadiri oleh para peminat seni termasuk para murid mimi Rasinah dari berbagai Negara.


GAYA TARI TOPENG (3)


Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg


Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg tersebar disekitar desa Gujeg, kecamatan Panguragan, kabupaten Cirebon.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gujeg
Gaya Gujeg sangat memprihantinkan, dikarenakan sepeninggal dalang Noglo, di wilayah desa Gujeg sudah tidak terdengar lagi adanya dalang topeng penerusnya lahir.
Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar sama seperti gaya Gujeg yang berada di dalam wilayah kecamatan Panguragan, gaya Kalianyar terpusat disekitar desa Kalianyar, wilayah pusat penyebaran gaya Kalianyar ini hanya dipisahkan oleh kali Winong disebelah timur dengan desa Gujeg dan hanya beberapa kilometer ke selatan dari wilayah ini sudah dapat ditemui gaya Slangit di desa Slangit dan gaya Kreyo di desa Kreyo
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
Di wilayah Kalianyar terdapat beberapa dalang tari Topeng, di antaranya dalang Sutini yang sudah pensiun karena faktor usia dan dalang Kasniri yang masih aktif.
Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo terpusat di desa Kreyo, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon yang hanya terpisahkan dengan desa Slangit disebelah timur oleh ruas jalan antar kecamatan yang menghubungkan kecamatan Klangenan dengan kecamatan Panguragan
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
Pada masa jayanya, gaya Kreyo memiliki seorang dalang tari Topeng yang terkenal, dia bernama Tarmi atau biasa dikenal dengan nama dalang Tarmi, sekarang yang ada hanyalah dalang Tumus, tetapi dia lebih sering menjadi nayaga (penabuh gamelan) kelompok tari Topeng Cirebon milik dalang Keni Arja (seorang maestro Topeng Cirebon gaya Slangit) sebagai penabuh saron penimbal.
Tari Topeng Cirebon gaya Losarang
Tari Topeng Cirebon gaya Losarang memiliki daerah penyebaran inti di kecamatan Losarang,Kabupaten Indramayu

Tari Topeng Cirebon gaya Losari
Tari Topeng Cirebon gaya Losari memiliki daerah penyebaran di sekitar kecamatan Losari, kabupaten Cirebon dan kecamatan Losari, kabupaten Brebes, menurut maestro tari Topeng Cirebon Irawati Ardjo, lokasi Losari yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah membuat tari Topeng Cirebon gaya Losari banyak dipengaruhi elemen-elemen budaya jawa, keterangan serupa juga diberikan oleh Dr. Een Herdiani dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, menurut dia perbedaan yang menjadi ciri khas tari Topeng Cirebon gaya Losari ada pada musik pengiringnya, gerakan tari dan pakaian penarinya
Pakaian penari
Pada kebanyakan penari Topeng Cirebon terutama yang mendalami gaya-gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah barat seperti gaya Slangit, maka akan ditemukan pakaian penarinya menggunakan kain batik khas cirebon motif mega mendung, hal ini berbeda dengan pakaian para penari Topeng Cirebon gaya Losari yang menggunakan kain batik motif parang yang merupakan motif khas batik dari budaya jawa.
Musik pengiring
Musik pengiring pada gaya Losari menggunakan gamelan yang dipengaruhi oleh budaya jawa. Pada saat tampil menari, penari Topeng Cirebon gaya Losari menjadikan kotak topeng dan para nayaga (penabuh gamelan) sebagai sebuah pusat pertunjukan, oleh karenanya banyak kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari yang menjaga harga diri dan kesucian ritual tariannya, beberapa kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari juga menolak jika pertunjukannya harus diselingi dengan pertunjukan musik dangdut atau organ tunggal sesuai dengan permintaan penonton. Berikut merupakan musik pengiring dari pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Losari ;
·         Tetaluan (gagalan), merupakan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
·         Pamindo naek barlen.
·         Barlen, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Patih Jayabadra dan Kili Paduganata
·         Bendrong, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Jingga Anom dan Tumenggung Magangdiraja.
·         Ombak banyu, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Tumenggung Magangdiraja dari negeri Bawarna.
·         Gonjing pangebat, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Klana Bandopati
·         Rumyang, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Samba dalam babak rumyang.

Gerakan tari
Pada gaya Losari, gerakan tidak hanya berpaku pada pola geometris seperti yang biasa dilakukan pada kebanyakan gaya tari Topeng Cirebon, tetapi juga menggunakan pola gerakan yang luwes. Gerakan yang menjadi khas gaya Losari di antaranya adalah 

·         gantung sikil yaitu gerakan menaikan satu kaki dan bertumpu pada kaki lainnya dengan berjinjit selama kurang lebih sepuluh menit
·         geleyong yaitu gerakan badan didorong ke kiri dan ke kanan dengan sesekali melenggokan badan ke belakang
·         naga seser yaitu gerakan kuda-kuda dimana kaki penari dibuka setengah jongkok dengan kaki kiri yang ditutupi juntaian kain.
Babak tarian
Berbeda dengan kebanyakan tingkatan babak (alur cerita) tari Topeng Cirebon dari wilayah barat yang memiliki lima tingkatan yaitu ;
1.    Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir
2.    Samba, menceritakan karakter anak-anak
3.    Rumyang, menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan
4.    Tumenggung, menceritakan manusia yang sudah dewasa
5.    Klana, menceritakan manusia yang dursila (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam dirinya)



Pada gaya Losari, alur cerita atau urutan tari tidak mengutamakan pada pembabakan cerita secara watak, tetapi lebih kepada teknik dan penjiwaan karakternya. Ada delapan tingkatan alur cerita pada tari Topeng Cirebon gaya Losari, yaitu ;
1.    Panji Sutrawinangun
2.    Patih Jayabadra
3.    Kili Paduganata
4.    Tumenggung Magangdiraja
5.    Jinggan Anom
6.    Klana Bandopati
7.    Rumyang
8.    Lakonan
Berbeda dengan gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah barat di mana kelima babaknya bisa dibawakan seluruhnya oleh seorang penari, pada gaya Losari, setiap alur cerita atau babak dapat dibawakan oleh penari yang berbeda-beda.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Losari
Di dalam gaya Losari, dalang yang terkenal di antaranya adalah almarhumah Sawitri dan Dewi dari sanggar tari Topeng Cirebon Purwa Kecana, perjuangan melestarikan gaya Losari kemudian diteruskan kepada keturunannya, di antaranya Taningsih, Nur Anani, Kartini, Srinarti, Warsono dan Susana.
Sanggar tari
Sanggar Seni Purwa Kencana, jalan batu, desa Astana Langgar, kecamatan Losari. kabupaten Cirebon

Tari Topeng Cirebon gaya Randegan

Ki Rawita membawakan babak Rumyang Udeng pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Randegan di acara Festival Topeng Nusantara yang bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon pada tahun 2006
'Tari Topeng Cirebon gaya Randegan merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa-desa Randegan kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka, menurut Ki Waryo (budayawan Cirebon) tari Topeng Cirebon gaya Randegan leluhurnya berasal dari wilayah Cirebon sama seperti tetangganya yaitu tari Topeng Cirebon gaya Beber yang leluhurnya juga berasal dari wilayah Cirebon.
Babak tarian
·         Topeng Panji', merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang halus
·         Topeng Samba, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sedang tumbuh
·         Topeng Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sudah dewasa
·         Topeng Jinggananom + Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari pertarungan antara jiwa yang memiliki nafsu baik dan nafsu jahat
·         Topeng Klana, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi
·         Topeng Rumyang Udeng, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum, berbeda dengan gaya tetangganya yaitu tari Topeng Cirebon gaya Beber yang menggunakan penutup kepala khas dalang Topeng Cirebon (bahasa Cirebon: Sobra), pada gaya Randegan, babak Rumyang dipentaskan dengan tidak menggunakan Sobra namun hanya menggunakan Udeng
Babak Rumyang pada tari Topeng Cirebon gaya Randegan dipentaskan di akhir pagelaran, menurut Ki Pandi Surono (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Beber) yang seacara adat bersebelahan dengan gaya Randegan, pada masa lalu pagelaran tari Topeng Cirebon terutama gaya Beber dilakukan pada malam hari dan babak Rumyang dipentaskan mendekati terbitnya matahari saat sinar matahari terlihat samar-samar (bahasa Cirebon: ramyang-ramyang) dari kata ramyang inilah kemudian babak ini dinamakan.
Penjelasan lebih lanjut tentang filosofi babak rumyang yang dipentaskan diahkhir setelah babak Topeng Klana yang merupakan proyeksi dari jiwa yang penuh nafsu dan emosi dijelaskan oleh Ki Waryo (budayawan Cirebon sekaligus dalang Wayang Kulit Cirebon gaya Kidulan (Palimanan) dan seorang ahli pembuat Topeng Cirebon) putera dari Ki Empek. Ki Waryo menjelaskan bahwa filosofi dari Rumyang terkait dengan sebuah proyeksi jiwa manusia yang sudah meninggalkan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang utuh (manusia harum) karena sudah tidak terbelenggu lagi dengan nafsu duniawi. Rumyang diartikan kedalam dua buah kata yaitu arum (bahasa Indonesia: harum) dan yang (bahasa Indonesia: manusia / orang) sehingga Rumyang diartikan secara harafiah menjadi manusia yang harum
Ki Rawita (maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan) menjelaskan bahwa sesungguhnya babak Rumyang pada gaya Randegan dipentaskan dengan tidak mengenakan sobra namun mengenakan Udeng khas gaya Randegan yang kemudian dia tunjukan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Randegan di acara Festival Topeng Nusantara pada tahun 2006 yang bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon.


Dalang tari Topeng Cirebon gaya Randegan
Ki Rawita merupakan seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan yang terkenal terutama pada pementasan babak Rumyang Udeng di acara Festival Topeng Nusantara pada tahun 2006 yang bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon.