Tampilkan postingan dengan label alat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

Tari topeng Panji

Tari topeng panji



Tari topeng kacirebonan memiliki 5 jenis, makadari itu memiliki topeng/watak yang berbeda pula. Kali ini yang akan kita bahas adalah tari topeng panji.
Panji berasal dari kata siji (satu, atau pertama), mapan sing siji (percaya kepada Yang Satu).  Mengapa dinamakan demikian? Karna Panji bermakna gambaran tentang kesucian manusia yang baru lahir. Kedoknya berwarna putih. Matanya liyep, pandangannya merunduk dan senyumnya dikulum. Raut wajahnya (wanda) menunjukan seorang yang alim, tuturkatanya lemah-lembut dan gerakannya halus. Dalam topeng Cirebon kedok ini ditarikan dalam karakter alusan (halus) seperti halnya tokoh Arjuna dalam cerita wayang. Tariannya menggambarkan seseorang yang berbudi luhur, penuh kesabaran dan tahan atas segala godaan. Ini tercermin dari iringannya (musik) yang bertolak belakang (kontras) dengan tariannya. Tari topeng Panji adalah tarian paradoks. Mengapa demikian? Konon Tarian topeng Panji adalah tarian untuk menghadirkan kekuatan-kekuatan semesta yang paradoksal. Dengan tarian ini, maka asas-asas paradoks semesta, kelaki-lakian dan keperempuanan, dihadirkan. Dewa pencipta itu sendiri dihadirkan lewat mitos dan lambang Panji. Panji adalah paradoks itu sendiri. Ia bersifat laki-laki dan bersifat perempuan, ia matahari dan ia bulan, ia siang dan malam, ia langit dan tanah, ia kasar dan halus, ia nampak dan tidak nampak, ia hidup dan kematian, ia masa lampau dan masa mendatang. Waktu dan ruang paradoks ada dalam diri Dewa ini.
Inilah tarian yang paling halus dengan langkah-langkah minimalis lebih banyak yang menampilkan gerak “diam yang dinamis”. Teknik gerakan jauh dari spektakuler, nyaris monoton dan “kurang menarik” bagi penonton awam. Meskipun demikian, tarian ini justru yang paling sukar ditarikan, karena diperlukan disiplin keras, penahanan diri, memakan tenaga, sangat serius, dan amat tertib sejak awal. Meskipun tarian ini merupakan tarian pertama, justru tarian ini dipelajari oleh para penarinya dalam tahap-tahap akhir, karena persyaratan tariannya yang demikian ketat. Bagian-bagian gerak tari Panji ini akan diulang dalam keempat tarian yang kemudian menyusul. Lagu yang mengiringinya disebut Kembang Sungsang, merupakan lagu terpanjang dan tersulit dimainkan. Iringan lagu ini sering tampil kontras dengan gerak tariannya. Irama cepat dan bunyi keras, disambut gerak tari yang amat minim, bahkan hampir tanpa gerak.

Oleh sebab itu banyak yang berkata "menarikan topeng Panji itu kaya wong urip tapi mati, mati tapi urip". Ungkapan tersebut adalah untuk menjelaskan, bahwa topeng Panji itu memang tidak banyak gerak, seperti orang yang mati tapi hidup, hidup tapi mati.
Bagaimanakah kisah awal mula adanya tari topeng panji tersebut? Saya akan jelaskan setahu saya, disimak ya teman-teman...
Kapan cerita panji mulai muncul di Jawa? Menurut Poerbatjaraka, cerita Panji telah ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan sebelum atau sekitar 1400, yakni pada zaman keemasan Majapahit atau sesudah kejayaannya. Naskah aslinya tidak ditemukan, tetapi “terjemahan” atasnya ditemukan dalam naskah Melayu, Panji Semirang. Bahwa cerita Panji telah ada pada masa itu, terbukti dari adanya relief zaman Majapahit tahun 1414 yang berisi bagian cerita Panji. Pendapat ini sesuai dengan berita Paparaton dan Negarakertagama yang mengisukan Raja Hayam Wuruk menari topeng (1350 1389). Jadi cerita Panji telah ada sebelum tahun 1400, bahkan sebelum tahun 1350. Cerita Panji berlatar zaman Kediri (1104 1222). Padahal, dalam cerita itu telah terjadi anakronisme sejarah, yakni mencampurkan kerajaan Singhasari (1222 1292) dengan zaman Kediri. Anakronisme itu dapat terjadi, karena pada zaman Singhasari, kerajaan Kediri juga masih berdiri, meskipun di bawah Singhasari. Sedangkan jarak antara bahan cerita dengan kejayaan Majapahit (munculnya karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan, berupa kitab-kitab kidung serta Paparaton, Tantu Panggelaran, dan lain-lain) sekitar 200 tahun. Sebenarnya, Sulit untuk memaparkan cerita Panji, berhubungan dengan banyaknya versi yang terus ditulis dari zaman ke zaman dan dari satu wilayah ke wilayah lain. Poerbatjaraka setidak-tidaknya membandingkan delapan versi, yakni Hikayat Panji Kuda Semirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Panji Anggraeni Palembang, Panji Kuda-Narawangsa, Malat. Belum dihitung versi cerita rakyat lisan, seperti Ande-Ande Lumut, Ketek-Ogleng, Ragil Kuning. Dari berbagai versi tersebut, ciri-ciri cerita Panji selalu menampakan dirinya dalam bentuk cerita tentang pangeran dan puteri dari 4 negara (Kediri, Kahuripan, Gegelang, Singhasari), percintaan antara pangeran dan puteri-puteri masing-masing pasangan Negara, menghilangnya candrakirana, pencarian Candrakirana dan pencarian Panji, saling menyamar dalam mengembara, penaklukan-penaklukan para pangeran dan puteri terhadap Negara-negara sekitarnya, dan akhirnya kebahagian perkawinan antara pasangan-pasangan tersebut.

Karena Poerbatjaraka menyatakan bahwa Panji Semirang merupakan versi terjemahan Melayu dari bahasa Jawa (Tengahan), maka versi ini yang akan diceritakan untuk pemaknaan tarian topeng Panji. Di Jawa (Timur) waktu itu terdapat 4 negara yang raja-rajanya masih saling bersaudara. Negara-negara itu adalah Janggala atau Kahuripan (Utara), Daha atau Kediri (selatan), Singhasari (timur), Gegelang atau Urawan (barat). Raja janggala meskipun sudah mempunyai anak lelaki bernama Brajanata, masih memohon kepada Dewa untuk memperoleh anak lelaki lagi. permintaan dikabulkan, dengan menjelmakan seorang Dewa di atas istana Janggala, dan lahirlah Raden Inu Kertapati (Panji). Sementara itu raja Daha juga memohon dikaruniai seorang anak, maka dewa menjelma dewi di istana Daha, dan lahirlah puteri Daha, Candrakirana. Tetapi Dewa murka, Karena setelah kedua raja tersebut dikabulkan permohonannya, ternyata keduanya lupa berterimakasih (syukuran) kepada Dewa. Maka Dewa memutuskan bahwa kedua pasang laki-perempuan dari Janggala dan Daha akan mengalami berbagai kesulitan sebelum mereka dapat hidup sebagai suami istri.
Alur cerita dimulai dengan timbulnya kesulitan pertama, yakni ketika Raden Inu (Panji), yang sudah dipertunangkan dengan Candrakirana. Jatuh cinta pada seorang gadis desa, Kartalangu (Anggraeni), pada waktu Panji dan dua saudara lelakinya berburu. Gadis desa itu dibawanya ke Istana, yakni keputren, rumah Panji. Dua asyik masyuk itu bercintaan sepenuh hati, meskipun Ken Kertalangu selalu mengingatkan bahwa Panji telah dipertunangkan dengan puteri Daha, dan percintaan mereka tak akan berlangsung lama. Suara Ken Kertalangu ini ternyata benar menjadi kenyataan, ketika Panji sedang pergi berburu, permaisuri Janggala, ibunda Panji, diam-diam mendatangi rumah Panji dan menikam Martalangu yang tembus seketika dan mati. Namun permaisuri menjadi menyesal setelah melihat betapa cantiknya Martalangu, dan memahami cinta putranda, Panji, yang begitu kuat padanya. Diberitahukan bahwa mayat Ken Martalangu moksa, hilang tanpa bekas. Ketika Panji pulang, ia mencari-cari kekasihnya, dan diberitahukan bahwa Martalangu telah moksa. Panji terpukul hebat, setengah gila. Lalu ia memutuskan untuk mengmbara dengan menyamarkan diri, mungkin untuk melupakan kekasihnya atau untuk mencari yang hilang tak tahu dimana. Kesulitan kedua muncul di Daha, Candrakirana yang merasa dikhianati tunangannya, nekad “melarikan diri” dari istana dengan menyamar sebagai lelaki. Beberapa versi melunakan “pemberontakan” atau kemarahan Candrakirana ini, dengan cara Candrakirana lenyap dari istana oleh Batara Kala dengan datangnya angin topan di Daha. Versi ini ingin menunjukan bahwa tak pantas seorang putri istana lari dari keputrennya. Kalau itu terjadi, tentu kehendak Dewa, bukan kehendak sendiri.
Baik saudara-saudara Panji maupun adik Candrakirana, ikut kabur dari istana, masing-masing mencari saudaranya, dan menyamar pula. Candrakirana menyamar sebagai Kuda Semirang. Panji sebagai Kelana Edan. Dalam penyamaran dan pencarian itu, putera-putera raja empat Negara banyak menaklukan Negara-negara lain. Akhirnya Kuda Semirang dan Kelana Edan bertemu mengabdi pada Gegelang. Kebetulan Gegelang adalah satu-satunya Negara yang mempunyai seorang puteri yang belum dipertunangkan, sehingga raja Socawindu melamar puteri tersebut untuk dikawinkan dengan puteranya. Kalau lamaran ditolak, maka Socawindu akan menyerang Gegelang beserta lima orang raja lain yang masih bersaudara dengannya. Ketika Socawindu menyerang Gegelang, Kuda Semirang dan Inu Kertapati menghadang mereka dan berhasil mengalahkan Socawindu. Sementara itu, panji, sebelum penyerangan Socawindu, telah bertemu dengan Candrakirana dan jatuh cinta padanya. Juga ketika keduannya menyamar, Candrakirana sebagai Semirang, Panji tetap tak dapat dipisahkan dengan Semirang. Seluruh cerita berakhir bahagia, karena putera-puteri keempat Negara sudah saling bertemu bersamaan dengan bertemunya Panji-Candrakirana. Maka kini bersatulah keempat kerajaan Jawa itu, karena masing-masing menjadi pasangan suami isteri, dengan “pusat” di Janggala atau Kahuripan (pasangan Panji-Candrakirana). Kalau secara kosmologi Jawa, maka kini lengkaplah terbentuk Negara kesatuan dengan pola empat kiblat kalimo pancer.
Sekiranya begitulah cerita mengenai tari topeng panji ini, semoga kalian tidak bosan membacanya ya, terimakasih...

Senin, 30 Desember 2019

ALAT MUSIK PENGIRING TARI TOPENG DAN FUNGSINYA




Tari dan musik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks seni pertunjukan tari, keberadaan unsur musik memiliki peran penting dalam memberikan warna dan karakter penyajian gerak yang ingin disampaikan. Selain itu, peran musik dalam tari mampu memberikan penekanan nilai estetika terhadap makna gerak dan keindahan gerak yang dibawakan dalam sebuah penyajian tari. Dalam penyajian tari tradisional, unsur musik begitu dominan dan kuat sehingga mampu membuat tari yang dibawakan memiliki karakter penyajian yang di sesuaikan dengan tema dan tujuan dari penyajian tari tersebut. 

1. REBAB 
REBAB adalah jenis alat musik senar yang di namakan demikian paling lambat dari abad ke-8 dan menyebar melalui jalur-jalur perdagangan Islam yang lebih banyak dari Afrika Utara, Timur Tengah, bagian dari Eropa, dan Timur Jauh. Beberapa varietas sering memiliki tangkai di bagian bawah agar rebab dapat bertumpu di tanah, dan dengan demikian disebut rebab tangkai di daerah tertentu, namun terdapat versi yang di petik seperti kabuli rebab (kadang-kadang disebut sebagai robab atau rubab). 

Ukuran rebab biasa nya kecil, badan nya bulat, bagian depan yang tercakup dalam suatu membran seperti perkamen atau kulit domba dan memiliki leher panjang terpasang. Ada leher tipis panjang dengan pegbox pada akhir dan ada satu, dua atau tiga senar. Tidak ada papan nada. Alat musik ini dibuat tegak, baik bertumpu di pangkuan atau di lantai. Busur nya biasanya lebih melengkung daripada biola. 

Rebab, meskipun di hargai karena nada suara, tetapi memiliki rentang yang sangat terbatas (sedikit lebih dari satu oktaf), dan secara bertahap di ganti di banyak dunia Arab oleh biola dan kemenche. Hal ini terkait dengan instrumen Irak, Joza, yang memiliki empat senar. 

2. GAMELAN 
Gamelan adalah ensembel musik yang biasa nya menonjol kan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang di wujudkan dan di bunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul atau menabuh, di ikuti akhiran an yang menjadikan nya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih di anggap sinonim dengan gamelan. 

3. GENDER 
Gender adalah alat musik pukul logam (metalofon) yang menjadi bagian dari perangkat gamelan Jawa dan Bali. Alat ini memiliki 10 sampai 14 bilah logam (kuningan) bernada yang di gantungkan pada berkas, di atas resonator dari bambu atau seng, dan di ketuk dengan pemukul berbetuk bundaran berbilah dari kayu (Bali) atau kayu berlapis kain (Jawa). Nada nya berbeda-beda, tergantung tangga nada yang dipakai. Pada gamelan Jawa yang lengkap terdapat tiga gender: slendro, pelog pathet nem dan lima, dan pelog pathet barang. 

4. KECAPI SULING 
Kecapi suling adalah sejenis musik instrumental yang bergantung pada improvisasi dan populer di provinsi Jawa Barat yang menggunakan dua alat musik, kecapi dan suling 

5. GONG 
Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini.Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. 

Fungsi Musik dalam Tari 
Musik dalam tari memiliki peran penting dalam memperkuat keutuhan penyajian tari. Kedudukannya tidak hanya mampu sebagai pengiring tarian saja, melainkan mampu pula berperan sebagai penguat suasana dan penekanan terhadap penyampaian dari makna gerak yang dipresentasikan. Keberadaan musik dalam tari merupakan hal yang sangat penting. Peranan atau kedudukan musik dalam tari bukan sebagai pengiring, melainkan sebagai musik tari. Musik memiliki kedudukan penting dalam tari, Beberapa fungsi musik dalam tari antara lain sebagai berikut. 

1. Memberi irama (membantu mengatur waktu). Sebuah tarian terdiri dari gerak-gerak yang berirama, mengatur atau menentukan irama, sangat sulit menari tanpa musik. Dimana irama dalam tari yaitu pengatur waktu (tempo) cepat dan lambatnya dari suatu rangkaian gerak, dan perlu saling mengisi dan saling mengiringi. 
2. Memberi ilustrasi atau gambaran suasana. Dalam tari, suasana atau ilustrasi sangat erat hubungannya dengan watak penari, terutama pada tari tradisional yang sangat memerlukan berbagai suasana. Adapun watak dalam suasana tari antara lain watak luguh/ halus, watak lenyap/ ganjen, dan gagah. 
3. Membantu mempertegas ekspresi gerak. Dalam tarian sudah barang tentu mempunyai tekanan-tekanan gerak yang diatur oleh tenaga. Mempertegas ekspresi gerak akan lebih sempurana di iringi atau di pertegas oleh hentakan instrumen musik sebagai pengiring tari. 
4. Rangsangn bagi penari. Elemen dasar dari tari adalah gerak dan ritme, Maka elemen dasar dari musik adalah nada Ritme dan Melodi. Dimana ada tari disitu pasti ada musik, musik dalam tari bukan hanya sekedar pengiring, tetapi musik adalah partner tari yang tidak boleh ditinggalkan, musik dapat memberikan suatu irama yang selaras sehingga dapat membantu mengatur ritme atau hitungan dan dapat juga memberikan gambaran dalam ekspresi suatu gerak. 

Dilihat dari penampilan, jenis, dan cara penyusunannya musik tari sangat beragam dan bervariasi. Terdapat musik tari yang dibuat dan dihasilkan dari alat-alat musik tradisional, seperti gamelan. Selain itu, terdapat pula musik tari yang dibuat dan dihasilkan dari alat-alat nongamelan, perkusi, dan berbagai benda lainnya yang dapat menimbulkan bunyi tertentu atau bunyi yang dikehendaki. 

Alat Musik Pengiring Tari Topeng 

Tidak hanya satu jenis alat musik saja yang mengiringi tarian ini. Perpaduan antara beberapa alat musik, membuat tarian ini menjadi unik dan penonton mudah terbawa dalam suasana pentas. Ada beberapa alat musik untuk mengiringi pementasan tarian ini, antara lain: 

• Satu Pangkon Saron. 

• Satu Pangkon Bonang. 

• Tiga Buah Gong yaitu Kiwul, Sabet, Telon. 

• Satu Pangkon Titil. 

• Satu Pangkon Kenong. 

• Seperangkat Alat Kecrek. 

• Satu Pangkon Jengglong. 

• Satu Pangkon Ketuk. 

• Dua Buah Kemanak. 

• Satu Pangkon Klenang. 

• Seperangkat Kendang Yang Terdiri Dari Ketiping, Kepyang, dan Gendung. 

Lagu-Lagu Pengiring Tari Topeng 

Pada saat pementasan, tarian ini tidak hanya diiringi musik saja, melainkan juga diiringi oleh lagu lagu. Hal ini akan menambah keunikan dari tarian ini. Lagu untuk mengiringi tarian ini tidak hanya satu lagu saja, melainkan ada beberapa lagu antara lain: 

• Kembangsungsang Untuk Topeng Panji. 

• Kembangkapas Untuk Topeng Samba. 

• Rumyang Untuk Topeng Rumyang. 

• Tumenggung Untuk Topeng Tumenggung. 

• Gonjing Untuk Topeng Kelana. 

Tari Topeng adalah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon Jawa Barat. Dalam Tarian ini terdapat 5 jenis topeng yaitu Topeng Panji, Topeng Samba, Topeng Rumyang, Topeng Tumenggung dan juga Topeng Kelana. Masing-masing topeng memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Topeng-topeng tersebut memiliki cerita yang berbeda antara topeng satu dengan topeng yang lain. 

Pementasan tarian ini bertujuan untuk hiburan dan juga untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Dalam Tarian ini terdapat beberapa topeng dengan simbol-simbol yang mengandung banyak pesan moral. 

Seperti ajakan untuk hidup di jalan yang lurus serta ajakan untuk perbanyak berdzikir dan istighfar. Pada setiap jenis topeng juga terdapat makna dan cerita.