Tampilkan postingan dengan label jenis tari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jenis tari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

Tari topeng Panji

Tari topeng panji



Tari topeng kacirebonan memiliki 5 jenis, makadari itu memiliki topeng/watak yang berbeda pula. Kali ini yang akan kita bahas adalah tari topeng panji.
Panji berasal dari kata siji (satu, atau pertama), mapan sing siji (percaya kepada Yang Satu).  Mengapa dinamakan demikian? Karna Panji bermakna gambaran tentang kesucian manusia yang baru lahir. Kedoknya berwarna putih. Matanya liyep, pandangannya merunduk dan senyumnya dikulum. Raut wajahnya (wanda) menunjukan seorang yang alim, tuturkatanya lemah-lembut dan gerakannya halus. Dalam topeng Cirebon kedok ini ditarikan dalam karakter alusan (halus) seperti halnya tokoh Arjuna dalam cerita wayang. Tariannya menggambarkan seseorang yang berbudi luhur, penuh kesabaran dan tahan atas segala godaan. Ini tercermin dari iringannya (musik) yang bertolak belakang (kontras) dengan tariannya. Tari topeng Panji adalah tarian paradoks. Mengapa demikian? Konon Tarian topeng Panji adalah tarian untuk menghadirkan kekuatan-kekuatan semesta yang paradoksal. Dengan tarian ini, maka asas-asas paradoks semesta, kelaki-lakian dan keperempuanan, dihadirkan. Dewa pencipta itu sendiri dihadirkan lewat mitos dan lambang Panji. Panji adalah paradoks itu sendiri. Ia bersifat laki-laki dan bersifat perempuan, ia matahari dan ia bulan, ia siang dan malam, ia langit dan tanah, ia kasar dan halus, ia nampak dan tidak nampak, ia hidup dan kematian, ia masa lampau dan masa mendatang. Waktu dan ruang paradoks ada dalam diri Dewa ini.
Inilah tarian yang paling halus dengan langkah-langkah minimalis lebih banyak yang menampilkan gerak “diam yang dinamis”. Teknik gerakan jauh dari spektakuler, nyaris monoton dan “kurang menarik” bagi penonton awam. Meskipun demikian, tarian ini justru yang paling sukar ditarikan, karena diperlukan disiplin keras, penahanan diri, memakan tenaga, sangat serius, dan amat tertib sejak awal. Meskipun tarian ini merupakan tarian pertama, justru tarian ini dipelajari oleh para penarinya dalam tahap-tahap akhir, karena persyaratan tariannya yang demikian ketat. Bagian-bagian gerak tari Panji ini akan diulang dalam keempat tarian yang kemudian menyusul. Lagu yang mengiringinya disebut Kembang Sungsang, merupakan lagu terpanjang dan tersulit dimainkan. Iringan lagu ini sering tampil kontras dengan gerak tariannya. Irama cepat dan bunyi keras, disambut gerak tari yang amat minim, bahkan hampir tanpa gerak.

Oleh sebab itu banyak yang berkata "menarikan topeng Panji itu kaya wong urip tapi mati, mati tapi urip". Ungkapan tersebut adalah untuk menjelaskan, bahwa topeng Panji itu memang tidak banyak gerak, seperti orang yang mati tapi hidup, hidup tapi mati.
Bagaimanakah kisah awal mula adanya tari topeng panji tersebut? Saya akan jelaskan setahu saya, disimak ya teman-teman...
Kapan cerita panji mulai muncul di Jawa? Menurut Poerbatjaraka, cerita Panji telah ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan sebelum atau sekitar 1400, yakni pada zaman keemasan Majapahit atau sesudah kejayaannya. Naskah aslinya tidak ditemukan, tetapi “terjemahan” atasnya ditemukan dalam naskah Melayu, Panji Semirang. Bahwa cerita Panji telah ada pada masa itu, terbukti dari adanya relief zaman Majapahit tahun 1414 yang berisi bagian cerita Panji. Pendapat ini sesuai dengan berita Paparaton dan Negarakertagama yang mengisukan Raja Hayam Wuruk menari topeng (1350 1389). Jadi cerita Panji telah ada sebelum tahun 1400, bahkan sebelum tahun 1350. Cerita Panji berlatar zaman Kediri (1104 1222). Padahal, dalam cerita itu telah terjadi anakronisme sejarah, yakni mencampurkan kerajaan Singhasari (1222 1292) dengan zaman Kediri. Anakronisme itu dapat terjadi, karena pada zaman Singhasari, kerajaan Kediri juga masih berdiri, meskipun di bawah Singhasari. Sedangkan jarak antara bahan cerita dengan kejayaan Majapahit (munculnya karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan, berupa kitab-kitab kidung serta Paparaton, Tantu Panggelaran, dan lain-lain) sekitar 200 tahun. Sebenarnya, Sulit untuk memaparkan cerita Panji, berhubungan dengan banyaknya versi yang terus ditulis dari zaman ke zaman dan dari satu wilayah ke wilayah lain. Poerbatjaraka setidak-tidaknya membandingkan delapan versi, yakni Hikayat Panji Kuda Semirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Panji Anggraeni Palembang, Panji Kuda-Narawangsa, Malat. Belum dihitung versi cerita rakyat lisan, seperti Ande-Ande Lumut, Ketek-Ogleng, Ragil Kuning. Dari berbagai versi tersebut, ciri-ciri cerita Panji selalu menampakan dirinya dalam bentuk cerita tentang pangeran dan puteri dari 4 negara (Kediri, Kahuripan, Gegelang, Singhasari), percintaan antara pangeran dan puteri-puteri masing-masing pasangan Negara, menghilangnya candrakirana, pencarian Candrakirana dan pencarian Panji, saling menyamar dalam mengembara, penaklukan-penaklukan para pangeran dan puteri terhadap Negara-negara sekitarnya, dan akhirnya kebahagian perkawinan antara pasangan-pasangan tersebut.

Karena Poerbatjaraka menyatakan bahwa Panji Semirang merupakan versi terjemahan Melayu dari bahasa Jawa (Tengahan), maka versi ini yang akan diceritakan untuk pemaknaan tarian topeng Panji. Di Jawa (Timur) waktu itu terdapat 4 negara yang raja-rajanya masih saling bersaudara. Negara-negara itu adalah Janggala atau Kahuripan (Utara), Daha atau Kediri (selatan), Singhasari (timur), Gegelang atau Urawan (barat). Raja janggala meskipun sudah mempunyai anak lelaki bernama Brajanata, masih memohon kepada Dewa untuk memperoleh anak lelaki lagi. permintaan dikabulkan, dengan menjelmakan seorang Dewa di atas istana Janggala, dan lahirlah Raden Inu Kertapati (Panji). Sementara itu raja Daha juga memohon dikaruniai seorang anak, maka dewa menjelma dewi di istana Daha, dan lahirlah puteri Daha, Candrakirana. Tetapi Dewa murka, Karena setelah kedua raja tersebut dikabulkan permohonannya, ternyata keduanya lupa berterimakasih (syukuran) kepada Dewa. Maka Dewa memutuskan bahwa kedua pasang laki-perempuan dari Janggala dan Daha akan mengalami berbagai kesulitan sebelum mereka dapat hidup sebagai suami istri.
Alur cerita dimulai dengan timbulnya kesulitan pertama, yakni ketika Raden Inu (Panji), yang sudah dipertunangkan dengan Candrakirana. Jatuh cinta pada seorang gadis desa, Kartalangu (Anggraeni), pada waktu Panji dan dua saudara lelakinya berburu. Gadis desa itu dibawanya ke Istana, yakni keputren, rumah Panji. Dua asyik masyuk itu bercintaan sepenuh hati, meskipun Ken Kertalangu selalu mengingatkan bahwa Panji telah dipertunangkan dengan puteri Daha, dan percintaan mereka tak akan berlangsung lama. Suara Ken Kertalangu ini ternyata benar menjadi kenyataan, ketika Panji sedang pergi berburu, permaisuri Janggala, ibunda Panji, diam-diam mendatangi rumah Panji dan menikam Martalangu yang tembus seketika dan mati. Namun permaisuri menjadi menyesal setelah melihat betapa cantiknya Martalangu, dan memahami cinta putranda, Panji, yang begitu kuat padanya. Diberitahukan bahwa mayat Ken Martalangu moksa, hilang tanpa bekas. Ketika Panji pulang, ia mencari-cari kekasihnya, dan diberitahukan bahwa Martalangu telah moksa. Panji terpukul hebat, setengah gila. Lalu ia memutuskan untuk mengmbara dengan menyamarkan diri, mungkin untuk melupakan kekasihnya atau untuk mencari yang hilang tak tahu dimana. Kesulitan kedua muncul di Daha, Candrakirana yang merasa dikhianati tunangannya, nekad “melarikan diri” dari istana dengan menyamar sebagai lelaki. Beberapa versi melunakan “pemberontakan” atau kemarahan Candrakirana ini, dengan cara Candrakirana lenyap dari istana oleh Batara Kala dengan datangnya angin topan di Daha. Versi ini ingin menunjukan bahwa tak pantas seorang putri istana lari dari keputrennya. Kalau itu terjadi, tentu kehendak Dewa, bukan kehendak sendiri.
Baik saudara-saudara Panji maupun adik Candrakirana, ikut kabur dari istana, masing-masing mencari saudaranya, dan menyamar pula. Candrakirana menyamar sebagai Kuda Semirang. Panji sebagai Kelana Edan. Dalam penyamaran dan pencarian itu, putera-putera raja empat Negara banyak menaklukan Negara-negara lain. Akhirnya Kuda Semirang dan Kelana Edan bertemu mengabdi pada Gegelang. Kebetulan Gegelang adalah satu-satunya Negara yang mempunyai seorang puteri yang belum dipertunangkan, sehingga raja Socawindu melamar puteri tersebut untuk dikawinkan dengan puteranya. Kalau lamaran ditolak, maka Socawindu akan menyerang Gegelang beserta lima orang raja lain yang masih bersaudara dengannya. Ketika Socawindu menyerang Gegelang, Kuda Semirang dan Inu Kertapati menghadang mereka dan berhasil mengalahkan Socawindu. Sementara itu, panji, sebelum penyerangan Socawindu, telah bertemu dengan Candrakirana dan jatuh cinta padanya. Juga ketika keduannya menyamar, Candrakirana sebagai Semirang, Panji tetap tak dapat dipisahkan dengan Semirang. Seluruh cerita berakhir bahagia, karena putera-puteri keempat Negara sudah saling bertemu bersamaan dengan bertemunya Panji-Candrakirana. Maka kini bersatulah keempat kerajaan Jawa itu, karena masing-masing menjadi pasangan suami isteri, dengan “pusat” di Janggala atau Kahuripan (pasangan Panji-Candrakirana). Kalau secara kosmologi Jawa, maka kini lengkaplah terbentuk Negara kesatuan dengan pola empat kiblat kalimo pancer.
Sekiranya begitulah cerita mengenai tari topeng panji ini, semoga kalian tidak bosan membacanya ya, terimakasih...

Senin, 30 Desember 2019

TUJUAN,JENIS DAN GAYA DALAM TARI TOPENG




Tujuan Pagelaran Tari Topeng
Dahulu, digelar di tempat terbuka seperti di halaman rumah, blandongan dannjuga bale dengan formasi penonton membentuk setengah lingkaran. Namun seiring jaman yang berkembang seperti saat ini, kini pertunjukan tari Topeng banyak digelar di gedung pementasan dengan efek lampu yang memukau. Pertunjukan Tari Topeng memiliki beberapa tujuan, berikut diantaranya.
1. Pertunjukan Komunal
Pagelaran komunal memiliki tujuan diselenggarakan untuk seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali, dan semua masyarakat pun ikut berpartisipasi di dalam gelaran tari ini. Acara tersebut pun digelar dengan cukup spektakuler, termasuk arak-arakan dalang serta atraksi-atraksi menarik yang lain. Umumnya pagelaran tersebut digelar lebih dari satu malam. Sebagai contoh pagelaran komunal ialah hajatan desa, ngarot ksinom, dan juga ziarah kubur atau ngunjung.
 2. Pertunjukan Individual
Seperti tujuannya, pagelaran ini umumnya diadakan oleh individu tertentu. Seperti untuk acara khitan, pernikahan, maupun acara haul atau ketika ada yang ingin melaksanakan nazar. Karenanya, pagelaran ini biasanya dipertunjukan di halaman rumah pemilik hajat.
3. Pertunjukan Babarangan
Pertunjukan babarangan ini digelar dengan berkeliling kampung, basanya hal ini merupakan inisiatif dari sang dalang topeng tersebut. Umumnya pagelaran ini dilakukan ketika ada desa yang sudah panen, atau memilih di lokasi yang lebih ramai.
Tari Topeng dan Struktur Pagelarannya
Struktur dalam pagelaran tari Topeng sangat tergantung pada kemampuan rombogan penari, fasilitas pendukung dan jenis topeng serta lakon atau cerita yang hendak dibawakan.
Secara umum, pagelarannya memiliki dua struktur yang berbeda, berikut diantaranya.
1.Topeng Alit
Tarian ini mempunyai struktur yang cukup minimalis, mulai dari segi sajian, dalang, peralatan pendukung nya. Kru pendukung dalam struktur pagelaran Tari Topeng Alit umumnya berjumlah 5 sampai 7 orang dan semuanya memiliki peran ganda. Artinya tak hanya seorang penari atau dalang Topeng yang membawakan babak topeng, namun para wiyaganya (pengiring yang membawa gamelan) pun juga ikut berperan untuk menambahkan  guyonan-guyonan ringan yang membuat pegelaran tari Topeng makin semarak.
2.Topeng gede
Berbeda dengan Tari Topeng Alit, dalam Tari Topeng Gede strukturnya lebih besar dan juga baku. Ini karena tarian Topeng Gede menjadi penyempurna dari Topeng Ali.
Dalam struktur Tari Topeng Besar diiringi oleh musik tetaluan yang lengkap sebagai pengiringnya. Memiliki lima babak tari yang semuanya ditarikan secara berurutan mulai dari panji, samba, rumyang, tumenggung hingga klana.
Tarian Topeng Gede juga terdapat lakonan dan jantuk atau nasihat yang biasanya diberikan di akhir pagelaran, berbeda dengan Tari Topeng Alit.
Jenis dan Gaya Tarian
Seni tari ini, memiliki beberapa jenis tarian, salah satunya yang cukup populer ialah tarian dengan lakon Kelana Kencana Wungu. kesenian jenis ini merupakan salah satu rangkaian dari Tari Topeng gaya Parahyangan, tariannya sendiri bercerita tentang Prabu Minakjingga yang mengejar-ngejar Ratu Kencana Wungu karena tergila-tergila pada sang ratu. pada dasarnya setiap topeng memiliki karkter masing-masing yang mengilustrasikan watak manusia.
Misalnya saja Kencana Wungu yang digambarkan denan topeng berwarna warna biru, mengilustrasikan karakter wanita yang lincah namun tetap anggun. lalu Minakjingga atau kerap juga disebut kelana, digambarkan dengan topeng yang berwarna merah mengilustrasikan karakter seseorang yang berangasan, tempramen dan kurang sabaran. Ini merupakan hasil karya Nugraha Soeradiredja. Selain gaya Parahyangan, masih ada beberapa gaya tarian sejenis. Berikut beberapa diantaranya.
Gaya Beber
Tarian ini merupakan salah satu tarian yang lahir dari desa Beber, Ligung, Majalengka – Jawa Barat, dan sudah lama ada bahkan sejak abad 17. Mulanya tari tersebut masuk ke desa Beber karena dibawa oleh seniman yang berasa dari Gegesik, Cirebon.
Tari Topeng gaya Beber ini terbagi menjadi beberapa babak tarian berdasarkan interpretasi mengenai sifat manusia, yaitu.
Topeng Panji, menggambarkan karakter yang halus nan lembut
Topeng Samba menggambarkan karakter jiwa yang tengah tumbuh
Topeng Temenggung, mengambarkan karakter jiwa yang telah dewasa
Topeng Jinggananom dan Temenggung, menggambarkan pertarungan antara jiwa dengan karakter baik dan jahat.
Topeng Klana,  menggambarkan karakter jiwa yang penuh hawa nafsu serta emosi
Topeng Rumyang, menggambarkan karakter jiwa telah melepaskan diri dari nafsu duniawi dan berubah menjadi manusia sempurna.
Gaya Brebes
Diceritakan dalam Babad Tanah Losari jika Tari Topeng gaya Brebes ini dikembangkan oleh Pangeran Angkawijaya, seorang pangeran dari Kesultanan Cirebon yang sedang menepi ke wilayah Losari. dulunya seni ini dinamakan gaya Losari, namun karena terpengaruh tradisi lokal akhirnya sekarang lebih dikenal dengan Gaya Brebes.
Gaya Celeng
Sekanjutnya ada gaya Celeng yang termasuk salah satu gaya tarian dari tari Topeng yang awal penyebarannya berasal dari dusun Celeng, Loh Bener, kabupaten Indramayu- Jawa Barat. Musik pengiring yang mengiringi pagelaran dengan gaya Celeng ini, ternyata memiliki beberapa kesamaan dengan alunan musik pengiring gaya Slangit dan Gegesik dan Slangit. Namun di beberapa bagian seperti gaya tabuhannya menggunakan Kembang Sungsang yang memiliki kekhasannya sendiri.
Gaya Cipunegara
Gaya Cipunegara, seperti namanya tari topeng dengan gaya ini banyak tersebar di kawasan kecamatan Pegaden sampai ke daerah bantaran sungai Cipunegara yang berbatasan dengan kabupaten Indramayu. Perkembangan tari topeng dengan gaya Cipunegara ini tak lepas dari peran masyarakat. Seni Tari gaya ini juga dikenal dengan sebutan tari topeng Menor, karena para penarinya memiliki suara dan paras yang cantik.selain itu tarian tersebut juga dikenal Tari Topeng Jati, karena pusat perkembangannya berada di desa Jati,Cipunegara, Subang.
Gaya Gegesik
Tarian Gaya Gegesik yang tersebar di sekitar Gegesik – Cirebon. Keunikan dari tari Topeng gaya Gegesik ini ialah karakteristik raut topeng nya. Seperti topeng Panji misalnya, di gaya Gegesik ini topeng tersebut digambarkan dengan wajah putih dengan karakteristik wajah yang tenang, bermata sipit namun memiliki tatapan yang tajam, berhidung mancung dengan senyum simpul. Namun pada perkembangan nya, seni tari gaya Gegesik ini pun turut berubah karena banyaknya pengaruh dari masyarakat dan lingkungan sekitar.
Gaya Losari
Tari Topeng ini tersebar di kawasan kecamatan Losari, Cirebon serta di kecamatan Losari, Brebes. Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah, membuat gaya Losari dipengaruhi elemen budaya Jawa. Salah satu ciri khasnya, ada pada lantunan musik pengiring, gerakan serta busana penarinya.
Gaya Palimanan
Tarian ini dipopulerkan di wilayah kecamatan Palimanan, Cirebon. Tarian ini diringi dengan iringan tabuhan gamelan atau tetaluan dengan gaya yang khas, seperti Kembang Sungsang, Gaya-gaya, Malang Totog, Bendrong, Gonjing dan Kembang Kipas.
Gaya Pekandangan
Jenis tarian ini mengalami perkembangan yang pesat di desa Pekandangan-  kabupaten Indramayu. Gaya Pekandangan ini sendiri merupakan satu dari banyak gaya tari Topeng yang banyak berkembang di Indramayu..Pembagian babak dalam tarian gaya Pekandang an sendiri merupakan gambaran dari hawa nafsu manusia yakni, Panji, Samba (topeng putih), Samba (topeng merah), Patih dan Klana.
Sesungguhnya masih ada banyak lagi gaya dan jenisnya. Seperti Gaya Tambi Gaya Sinar rancang, Gaya Kreyo, Gaya Slangit, Gaya Rancengan dan banyak lagi.
Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Hal ini menjadi salah satu cara melestarikan budaya kesenian daerah yang patut diapresiasi.

Rabu, 25 Desember 2019

GAYA TARI TOPENG (5)



Tari Topeng Cirebon gaya Slangit




Ki Waryo dan Ki Wiyono saat membawakan drama satu babak dalam pertunjukan topeng Cirebon pada saat acara kaulan dirumah keluarga mimi Keni Arja (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Menurut keterangan dari Ki Erik North (budayawan Cirebon asal Santa Barbara – California) instrumen kendang yang ada pada foto merupakan instrumen kendang yang asli dari kebudayaan Cirebon jika dilihat dari bentuknya, bentuk ini berbeda dari kendang Sunda yang sekarang ramai dipergunakan.
Tari Topeng Cirebon gaya Slangit utamanya terpusat disekitar desa Slangitkecamatan Klangenankabupaten Cirebon, gaya inilah yang kemudian digunakan dan dikembangkan menjadi gaya tari Topeng Cirebon pada sanggar kesenian Sekar Pandan milik kesultanan Kacirebonan. Pada era tahun 80-an, sekitar tahun 1986 seorang peneliti asing bernama Pamela Rogers-Aguiniga telah mendokumentasikan secara mendetail berbagai dinamika dari tari Topeng Cirebon gaya Slangit melalui bimbingan Ki Sujana Arja (maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Musik pengiring

Musik pengiring yang digunakan dalam tari Topeng Cirebon gaya Slangit merupakan musik-musik khas gamelan Cirebon, berikut urutannya
·         Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
·         Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
·         Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
·         Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
·         Tumenggungan, atau dikenal dengan nama bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
·         Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.

Babak tarian

Pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Slangit terdiri dari lima babak yaitu ;
·         Panji,
·         Samba (Pamindo),
·         Rumyang,
·         Tumenggung
·         Klana.
Ki dalang Sudjana Arja menafsirkan pagelaran topeng Cirebon gaya Slangit kedalam tiga fase yaitu pertumbuhan jasmani manusia (dari mulai bayi hingga dewasa, suasana kebatinan manusia di mana manusia mempergunakan fungsi indranya dalam komunitas sosialnya dan makna keagamaan yang ditunjukan secara simbolis mengenai sifat dan perilaku manusia.

Gerakan tari

Gerakan tari yang menjadi ciri khas dari gaya Slangit adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat serta gesit dan mendetail dalam setiap perpindahan geraknya, dikarenakan urutan gerakannyayang sangat mendetail maka gaya Slangit dijadikan sebuah acuan dalam pengajaran tari Topeng Cirebon dalam lingkup akademis.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Slangit

Dalang tari pada gaya Slangit yang terkenal di masyarakat hampir seluruhnya merupakan keturunan dari keluarga Arja, salah satu yang masih aktif melestarikan dan juga sebagai pengajar formal adalah Keni Arja (saudara almarhum Ki Sujana Arja), perjuangan keluarga Arja pada masa lalu dalam mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari bukanlah sebuah hal yang mudah, setelah kematian enam saudaranya hanya tinggal Ki Sujana Arja dan Keni Arja yang berjuang mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari, karena dari sembilan orang anak keturunan Ki Dalang Arja hanya delapan orang yang kemudian menjadi seniman tari Topeng Cirebon, baik sebagai nayaga (penabuh gamelan) atau sebagai dalang topeng, di antara sembilan orang anak Ki Dalang Arja hanya Durman yang tidak menjadi seorang seniman Topeng Cirebonan.
Perjuangan almarhum Ki Sujana Arja dan adiknya Keni dalam upaya melestarikan gaya Slangit dimulai dari Bebarangan yakni mengamen topeng dari kampung ke kampung dan memenuhi panggilan pentas, ditengah terjepit dalam sulitnya mempertahankan tari Topeng Cirebon gaya Slangit yang sepi dari panggilan pentas, kelompok tari Topeng Cirebon juga pada masa itu (sekitar tahun 1960-an) dihadapkan dengan tuduhan bahwa mereka terkait dengan Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S) sehingga menyebabkan ada beberapa kelompok tari Topeng Cirebon yang memilih untuk membubarkan diri karena takut dikait-kaitkan dengan gerakan tersebut, tetapi karena berniat untuk melestarikan gaya Slangit maka Ki Sujana Arja beserta saudaranya Keni Arja tetap melakukan pagelaran untuk membuktikan bahwa tari Topeng Cirebon gaya Slangit mampu bertahan dalam segala perubahan.[20]
Setelah meninggalnya Ki Dalang Sujana Arja, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Slangit diteruskan oleh kedua puteranya, yaitu Inu Kertapati dan Astori, serta dalang-dalang topeng Cirebon gaya Slangit lainnya seperti Miah, Maskeni, Karmina, Wiyono (putera dari Keni Arja), Nunung Nurasih, Oliah, Iin, dan Turini.

Sanggar tari

·         Sanggar Sekar Pandan – Kompleks keraton Kacirebonan, Jl. Pulasaren No. 74, kota Cirebon.
·         Sanggar Panji Asmara (pimpinan Inu Kertapati) – desa Slangit sebelah utara, Klangenankabupaten Cirebon. Telp: +6281320004611
·         Sanggar Adiningrum (pimpinan Keni Arja) – desa SlangitKlangenankabupaten Cirebon.
·         Sanggar Langgeng Saputra (pimpinan Sanija) – desa Slangit,Klangenankabupaten Cirebon. Telp +6285224774338


Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang

Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang masih dipentaskan di wilayah timur kabupaten Cirebon, penyebaran gaya Sinar Rancang terbatas disekitar desa Sinar Rancang, kecamatan Mundukabupaten Cirebon


Tari Topeng Cirebon gaya Tambi

'Tari Topeng Cirebon gaya Tambi merupakan tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di desa Tambi,kecamatan Sliyegkabupaten Indramayu, tari Topeng Cirebon gaya Tambi dan lainnya yang berada di wilayah kabupaten Indramayu secara umum memiliki kesamaan dengan tari Topeng Cirebon yang ada di wilayah kabupaten Cirebonkabupaten Majalengka serta kabupaten Subang yakni dengan adanya lima babak tarian, perbedaannya hanyalah terdapatnya sub-babak Klana Udeng yang merupakan kepanjangan dari babak Klana.

Pakaian Penari

Pakaian penari (bahasa Cirebondalang topeng) pada gaya Tambi hampir mirip dengan gaya-gaya tari Topeng Cirebon lainnya, perbedaannya adalah pada pakaian ketika mementaskan sub-babak Klana Udeng, pada saat mementaskan Klana Udengdalang topeng tidak mengenakan penutup kepala (bahasa Cirebonsobra) melainkan hanya mengenakan ikat kepala dari kain (bahasa Cirebonudeng)


Musik pengiring

Musik pengiring pada gaya Tambi hampir serupa dengan gaya Slangit, perbedaannya adalah pada babak Klana selain diiringi oleh lagu Gonjring juga diiringi oleh lagu Sarung Ilang kemudian pada sub-babak Klana Udeng lagu pengiringnya adalah lag-lagu khas dari Indramayu atau dikenal dengan lagu dermayonan

Gerakan tari

Gerakan tari yang khas pada gaya Tambi adalah ketika mementaskan sub-babak Klana Udeng, pada saat itu tarian dipentaskan dengan mempertunjukan keahlian atraksi Dalang Topengnya, seperti atraksi menari di atas tambang sambil mengambil koin.

Babak tarian

Babak tarian yang ada pada gaya Tambi sama dengan gaya-gaya yang ada di wilayah kabupaten Cirebonkabupaten Majalengka dan kabupaten Subang, yakni Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Klana. Perbedaannya adalah dengan adanya sub-babak Klana Udeng yakni kepanjangan dari babak Klana.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Tambi

Dalang Topeng yang terkenal dari gaya Tambi salah satunya adalah Nyai Wangi Indria, anak dari Ki Dalang Taham (dalang wayang Kulit Cirebon dan cucu dari Ki Wisad (seniman tradisional).

Sanggar tari

·         Sanggar Mulya Bhakti, pimpinan "Nyai" Wangi Indriya, Jl. Raya Jati Barang – Karang Ampel Km. 3, desa Tambi,kecamatan Sliyegkabupaten Indramayu. Telp. (+62-234) 352031




GAYA TARI TOPENG (4)


Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan



     Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan tersebar disekitar kecamatan Palimanan dan sekitarnya.

Musik pengiring
Musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan diantaranya adalah ;
·        Kembang sungsang, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Panji
·        Gaya-gaya, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Samba, kata Gaya-gaya diambil dari gerakan watak Samba yang lincah dan banyak tingkah.
·        Malang totog, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Tumenggung. kata Malang totog berarti Belalang yang sedang menotog yang diambil dari ekspresi dalam gerakan dalang Topeng yang sedang meniru gerakan Malang (bahasa Indonesia: Belalang) tersebut, Malang totog sebenarnya adalah nama asli dari tetaluan (tabuhan gamelan) yang mengiringi babak Topeng Tumenggung namun sekarang banyak yang mengenalnya denga nama tetaluan Tumenggung mengikuti nama babak Tumenggung yang sedang dipentaskan.
·        Bendrong, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Jingga Anom dan babak akhir yaitu Klana Udeng
·        Gonjing, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Klana
·        Kembang kapas, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Rumyang





Tetaluan yang dibawakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan kurang lebih memiliki kesamaan dengan yang ada pada gaya Gegesik yaitu dengan dimainkannya tetaluan Kembang SungsangKembang Kapas dan Gonjing, kesamaan pada gaya Losari bisa dilihat dari dimainkannya tetaluan Bendrong pada babak Jingga Anom, kedekatan ini kemungkinan terjadi karena menurut penuturan para budayawan dahulu, sesepuh tari Topeng Cirebon gaya Palimanan berasal dari wilayah timur kabupaten Cirebon tepatnya di wilayah kecamatan Astana Japurakabupaten Cirebon


Babak tarian
Babak tarian yang dibawakan pada gaya Palimanan hampir serupa dengan yang ada pada gaya Beber dan Randegan namun dengan penambahan babak Klana Udeng sebagai akhir dari pagelarannya.
·        Panji, gerakannya sangat menghayati diam namun penuh arti, sunyi ing raga, ngaji diri (bahasa Indonesia: menyepi diam dan mendekatkan diri) terhadap allah swt, babak ini dalam gaya Palimanan melambangkan jiwa yangg bersih suci tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir.
·        Samba, gerakannya sangat lincah merefleksikan anak balita yang sangat lincah dan senang bermain.
·        Tumenggung, menggambarkan jiwa yang mulai dewasa dengan ditandai tumbuh kumis tipis pada topeng tumenggung yang merefleksikan sudah dimilikinya tanggung jawab dalam kehidupan.
·        Jingga anom, babak pementasan seperti teater yang menceritakan tokoh Jingga Anom.
·        Klana, merefleksikan sekumpulan puncak jiwa amarah murka dari topeng Panji, Samba, Tumenggung, Jingga Anom yang menjelma jadi satu menjadi angkra murka
·        Rumyang, babak Rumyang ini menandai sudah terlepasnya hawa nafsu duniawi, dipentaskan saat terbitnya matahari, saat sinar sudah terlihat samar-samar (bahasa Cirebon: ramyang-ramyang), babak ini dalam gaya Palimanan diterjemahkan sebagai penemuan jati diri yang sesungguhnya jatiningsun ing gusti (bahasa Indonesia: diri ini berserah kepada Allah swt), memproyeksikan jiwa yang centil dan ganjen (bahasa Indonesia: mencari perhatian) (dalam arti ganjen terhadap Allah swt) ganjen berlomba-lomba menuntut dan mentaati peraturan Allah swt serta mulai memandang dunia yang arum (bahasa Indonesia: harum) yaitu alam akhirat
·        Klana udeng, gerak tarinya perpaduan semua gerak tari lima wanda (babak Topeng) namun dengan menambahkan gerakan yang belum sempat ditarikan di topeng lima wanda tersebut, babak Klana Udeng dipentaskan dengan tidak menggunakan sobra namun dengan menggunakan Udeng (bahasa Indonesia: iket kepala)

Selain lima babak yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) pada masa lalu di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

Gerakan tari
Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan memiliki ciri khas pada berbagai macam posisi berdiri yang diciptakan oleh dalang Wentar, posisi-posisi tersebut disesuaikan dengan postur tubuh dan kepantasan penarinya, ditambah dengan penafsiran yang berbeda dalam meresapi watak dalam cerita topeng, membuat gerakan tarian Topeng gaya Palimanan ini berbeda.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
Para dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang Wentar, Ki Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. namun menyebar ke wilayah lainnya terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber Jayakabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan Ki Wentar dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang kemudian menikah dengan Ki dalang Entang dari desa Baladkecamatan Dukupuntangkabupaten Cirebon merupakan ibu dan ayahnya, sehingga Ki Dalang Sukarta sekaligus menjadi cucu bagi Ki dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang terkenal dari gaya Palimanan adalah Ki dalang Ade Irfan.
Sanggar seni
o   Sanggar Seni Panggelar Budi, pimpinan Ki dalang Sukarta, Gedung Rumah Budaya jalan raya Cirebon – Bandung kawasan PT Indocement, desa Palimanan baratkecamatan Gempolkabupaten Cirebon. telp. +62-813-8095-8012 (Ki dalang Sukarta)
  • Sanggar Cipta Bagus Winangun, dibina oleh Ki Dalang Ade Irfan dan Tessar Ibrahim, bertempat di blok Kebagusan, desa Siti Winangun, kecamatan Jamblang, kabupaten Cirebon. Telp. +62 813-1132-6106 (Ki Dalang Ade Irfan) +62 878-2697-5428 (Dalang Tessar Ibrahim)







Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan

Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa Pekandangankecamatan Indramayukabupaten Indramayu, gaya Pekandangan merupakan salah satu dari sedikit gaya tari Topeng Cirebon yang ada di Indramayu selain gaya Tambi yang lestarikan oleh mimi Wangi Indriya.
Babak tarian
Pembagian babak pada tari topeng Cirebon gaya Pekandangan menurut Riyani didasarkan pada interpretasi dari gambaran nafsu manusia.
·        Panji
·        Samba (bertopeng putih)
·        Samba (bertopeng merah)
·        Patih
·        Klana

Riyani menjelaskan bahwa babak topeng Panji, Samba dan Patih merupakan sebuah interpretasi dari kesempurnaan manusia jika ditelaah dalam sudut pandang jiwa manusia sedangkan babak topeng Klana merupakan sebuah proyeksi dari gambaran jasmani seorang manusia yang masih mempunyai berbagai nafsu duniawi.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
Dalang topeng gaya Pekandangan yang terkenal adalah mimi (bahasa Indonesia: ibu) Rasinah anak dari Ki Dalang Lastra dan ibunya seorang dalang ronggeng, menurut Ki Waryo budayawan Cirebon, mimi Rasinah merupakan salah satu maestro tari Topeng Cirebon yang banyak menimba ilmu dari para seniornya terdahulu seperti dari mimi' Soedji (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan), kini setelah meninggalnya mimi Rasinah, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan dilanjutkan oleh para muridnya, salah satunya adalah Aerli yang juga keturunannya.
Pada awalnya keluarga besar Ki dalang Lastra mengalami kesulitan besar ketika hendak mengembangkan tari topeng Cirebon gaya Pekandangan, kesulitan itu muncul dari penjajah yang berfikir bahwa aktivitas pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan yang dilakukan oleh Ki Lastra merupakan sebuah aktivitas mata-mata oleh pejuang Republik Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang, kelompok tari yang dipimpin oleh Ki Lastra dibekukan hingga selanjutnya pada masa agresi militer Belanda, Ki Lastra tewas ditembak tentara Belanda dengan tuduhan yang sama dengan sebelumnya yaitu melakukan aktivitas mata-mata untuk Republik Indonesia.
Usaha melestarikan gaya Pekandangan oleh keluarga besar Mimi Rasinah membuahkan hasil dengan dipentaskannya pagelaran tari Topeng yang berjudul Napak Tilas Sang Maestro Tari Topeng Pekandangan: Mimi Rasinah di teater terbuka balai pengelolaan taman budaya Jawa Barat pada maret 2014 yang diperagakan oleh ratusan dalang topeng gaya Pekandangan dari berbagai usia dan dihadiri oleh para peminat seni termasuk para murid mimi Rasinah dari berbagai Negara.